DESKRIPSI & ROADMAP PENGEMBANGAN PROGRAM DOUBLE TRACK
A. DESKRIPSI UMUM
Program Double Track merupakan model pendidikan vokasional terintegrasi yang bertujuan menyiapkan peserta didik agar siap kerja, siap usaha, dan siap beradaptasi dengan perubahan teknologi serta dinamika industri. Untuk menjamin keberlanjutan dan relevansi jangka panjang, pengembangan Double Track diarahkan pada pembentukan ekosistem vokasional yang kuat melalui digitalisasi, diversifikasi keterampilan, kolaborasi industri, penguatan alumni, serta pengembangan kebijakan dan pusat keunggulan (Center of Excellence).
Pengembangan ini mengusung pendekatan Life Skills & Employability, sehingga lulusan tidak hanya memiliki keterampilan teknis (learning to do), tetapi juga kemampuan bertahan dan berkembang di pasar kerja yang terus berubah.
B. PILAR PENGEMBANGAN STRATEGIS
1. Digitalisasi Program Double Track
Digitalisasi menjadi fondasi utama untuk meningkatkan akses, kualitas, dan efisiensi program.
Fokus Pengembangan:
-
Platform pembelajaran digital (LMS Double Track)
-
Digitalisasi modul, RPP, dan asesmen
-
Portofolio digital peserta
-
Sistem monitoring & evaluasi berbasis data
Tujuan:
Mewujudkan program vokasional yang fleksibel, terdokumentasi, dan mudah direplikasi lintas wilayah.
2. Diversifikasi Keterampilan
Program Double Track dikembangkan dengan ragam keterampilan yang responsif terhadap potensi lokal dan tren global.
Arah Diversifikasi:
-
Vokasi berbasis jasa dan industri kreatif
-
Keterampilan digital dan teknologi terapan
-
Kewirausahaan berbasis potensi daerah
-
Keterampilan hijau (green skills)
Tujuan:
Memperluas peluang kerja dan usaha lulusan di berbagai sektor ekonomi.
3. Kolaborasi Dunia Usaha dan Industri
Kolaborasi industri menjadi kunci relevansi pelatihan.
Bentuk Kolaborasi:
-
Penyelarasan kurikulum dengan industri
-
Magang dan praktisi mengajar
-
Sertifikasi kompetensi bersama
-
Penyerapan lulusan dan inkubasi usaha
Tujuan:
Menutup kesenjangan antara sekolah dan dunia kerja (link and match).
4. Penguatan Alumni Double Track
Alumni diposisikan sebagai aset strategis dan agen keberlanjutan program.
Strategi:
-
Pembentukan jejaring alumni
-
Pelibatan alumni sebagai mentor
-
Tracking lulusan (tracer study)
-
Dukungan karier dan usaha lanjutan
Tujuan:
Menciptakan siklus pembelajaran berkelanjutan dan efek multiplikasi dampak.
5. Pengembangan Model Kebijakan Keberlanjutan
Program Double Track diperkuat melalui kerangka kebijakan yang sistematis.
Fokus Kebijakan:
-
Standar mutu pelatihan
-
Skema pembiayaan berkelanjutan
-
Integrasi dengan kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan
-
Replikasi model lintas daerah
Tujuan:
Menjadikan Double Track sebagai program institusional, bukan proyek jangka pendek.
6. Pengembangan Center of Excellence (CoE) Double Track
CoE menjadi pusat inovasi dan rujukan nasional.
Fungsi CoE:
-
Pusat pengembangan kurikulum vokasional
-
Laboratorium praktik & inovasi
-
Pelatihan instruktur dan fasilitator
-
Hub kolaborasi industri dan komunitas
Tujuan:
Menghasilkan praktik terbaik (best practices) dan inovasi vokasional berkelanjutan.
7. Model Pembelajaran Vokasional Adaptif
Model pembelajaran dirancang adaptif terhadap:
-
teknologi baru,
-
transformasi industri,
-
kebutuhan ekonomi lokal dan global.
Ciri Model:
-
Project-Based Learning
-
Teaching Factory
-
Hybrid learning (offline–online)
-
Kurikulum modular & fleksibel
Tujuan:
Menyiapkan lulusan yang agile dan mudah melakukan upskilling/reskilling.
8. Pendampingan Berkelanjutan
Pendampingan menjadi kunci keberhasilan pascapelatihan.
Bentuk Pendampingan:
-
Mentoring kerja dan usaha
-
Inkubasi bisnis siswa/alumni
-
Konsultasi karier
-
Akses jejaring industri & pembiayaan
Tujuan:
Menjamin transisi lulusan dari pelatihan ke dunia kerja atau usaha berjalan efektif.
C. ROADMAP PENGEMBANGAN DOUBLE TRACK
🔹 Tahap 1: Fondasi & Digitalisasi (Tahun 1)
-
Digitalisasi modul dan kurikulum
-
Pengembangan LMS Double Track
-
Pemetaan potensi industri & keterampilan
-
Penguatan instruktur dan fasilitator
🔹 Tahap 2: Ekspansi & Kolaborasi (Tahun 2–3)
-
Diversifikasi bidang keterampilan
-
Implementasi magang industri terstruktur
-
Pembentukan jejaring alumni
-
Pilot Center of Excellence
🔹 Tahap 3: Institusionalisasi & Inovasi (Tahun 4–5)
-
Penguatan kebijakan dan regulasi
-
Replikasi CoE di berbagai wilayah
-
Integrasi sistem tracer study nasional
-
Pengembangan model pembelajaran adaptif berbasis teknologi baru
D. DAMPAK JANGKA PANJANG YANG DIHARAPKAN
-
Lulusan Double Track yang adaptif dan berdaya saing
-
Penurunan pengangguran lulusan pendidikan menengah
-
Penguatan ekonomi lokal berbasis keterampilan
-
Terbentuknya ekosistem vokasional berkelanjutan
Penegasan Akhir
Double Track tidak hanya program pelatihan, tetapi ekosistem pembelajaran vokasional yang hidup, adaptif, dan berkelanjutan.
COE
- Support: For their area of focus, CoE’s should offer support to the business lines. This may be through services needed, or providing subject matter experts.
- Guidance: Standards, methodologies, tools and knowledge repositories are typical approaches to filling this need.
- Shared Learning: Training and certifications, skill assessments, team building and formalized roles are all ways to encourage shared learning.
- Measurements: CoEs should be able to demonstrate they are delivering the valued results that justified their creation through the use of output metrics.
- Governance: Allocating limited resources (money, people, etc.) across all their possible use is an important function of CoEs. They should ensure organizations invest in the most valuable projects and create economies of scale for their service offering. In addition, coordination across other corporate interests is needed to enable the CoE to deliver value.

