Ekosistem Prakerja

 









Ekosistem Prakerja: Kolaborasi Strategis untuk Meningkatkan Kesiapan Kerja dan Daya Saing SDM

Pendahuluan

Perubahan struktur ekonomi, digitalisasi, serta dinamika pasar kerja global menuntut sumber daya manusia (SDM) yang adaptif, terampil, dan siap kerja. Di Indonesia, tantangan ketenagakerjaan tidak hanya berkaitan dengan tingkat pengangguran, tetapi juga kesenjangan antara kompetensi lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Dalam konteks ini, ekosistem prakerja hadir sebagai pendekatan kolaboratif untuk menjembatani dunia pendidikan, pelatihan, dan ketenagakerjaan.

Ekosistem prakerja tidak berdiri sebagai satu program tunggal, melainkan sebagai jejaring aktor, kebijakan, dan layanan yang saling terhubung untuk meningkatkan employability masyarakat usia produktif.


Konsep Ekosistem Prakerja

Ekosistem prakerja dapat dipahami sebagai sistem terintegrasi yang mendukung proses transisi individu dari fase belajar menuju dunia kerja atau kewirausahaan. Ekosistem ini menempatkan peserta sebagai pusat (learner-centered), dengan dukungan pelatihan keterampilan, penguatan life skills, akses sertifikasi, serta koneksi ke peluang kerja dan usaha.

Salah satu contoh implementasi kebijakan dalam ekosistem ini adalah Program Kartu Prakerja, yang mengombinasikan bantuan biaya pelatihan, insentif, serta akses ke berbagai platform pembelajaran.


Komponen Utama Ekosistem Prakerja

1. Pemerintah sebagai Regulator dan Orkestrator

Pemerintah berperan dalam:

  • merumuskan kebijakan ketenagakerjaan,

  • menyediakan insentif pelatihan,

  • memastikan inklusivitas bagi kelompok rentan.

Melalui kebijakan prakerja, pemerintah mendorong pelatihan berbasis kebutuhan pasar dan kompetensi masa depan.


2. Lembaga Pendidikan dan Pelatihan

Sekolah, lembaga vokasi, BLK, dan penyedia pelatihan nonformal menjadi aktor utama dalam penyediaan technical & vocational skills. Peran mereka semakin strategis ketika kurikulum diselaraskan dengan:

  • kebutuhan industri,

  • keterampilan digital,

  • kewirausahaan.

Pendekatan Learning to Do menjadi kunci agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menghasilkan produk atau jasa nyata.


3. Dunia Usaha dan Industri

Industri berperan sebagai:

  • pengguna tenaga kerja,

  • mitra magang,

  • sumber standar kompetensi.

Keterlibatan industri memastikan pelatihan tidak terputus dari realitas kerja, sekaligus membuka peluang rekrutmen langsung bagi lulusan pelatihan.


4. Platform Digital dan Teknologi

Platform pembelajaran digital memungkinkan:

  • akses pelatihan yang luas dan fleksibel,

  • personalisasi jalur belajar,

  • monitoring capaian kompetensi.

Digitalisasi memperluas jangkauan ekosistem prakerja hingga ke wilayah terpencil dan kelompok marginal.


5. Peserta sebagai Subjek Utama

Peserta ekosistem prakerja bukan sekadar penerima manfaat, tetapi aktor aktif yang:

  • memilih jalur pelatihan sesuai minat,

  • mengembangkan kompetensi diri,

  • membangun portofolio kerja atau usaha.

Penguatan motivasi, disiplin, dan kesiapan mental menjadi faktor penentu keberhasilan.


Integrasi Life Skills dan Employability

Agar pelatihan prakerja berdampak berkelanjutan, ekosistem ini perlu terintegrasi dengan Life Skills & Employability Framework, sebagaimana dipromosikan oleh UNICEF. Framework ini menekankan bahwa keterampilan teknis harus didukung oleh:

  • komunikasi dan kerja tim,

  • problem solving,

  • etos kerja,

  • literasi digital dan finansial.

Dengan integrasi tersebut, lulusan prakerja tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap berkembang di tengah perubahan pasar kerja.


Tantangan dan Peluang

Tantangan

  • Kualitas pelatihan yang belum merata

  • Keterbatasan keterlibatan industri

  • Keberlanjutan pascapelatihan

Peluang

  • Penguatan sinergi pendidikan–industri

  • Integrasi dengan program vokasi sekolah (Double Track, SMK)

  • Pemanfaatan teknologi dan data untuk skill matching


Penutup

Ekosistem prakerja merupakan fondasi penting dalam pembangunan SDM yang kompeten dan berdaya saing. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga pelatihan, industri, dan masyarakat, ekosistem ini dapat menjadi instrumen strategis untuk mengurangi pengangguran, meningkatkan kualitas tenaga kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif.

Ke depan, penguatan ekosistem prakerja tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau jumlah peserta, tetapi oleh kualitas kolaborasi dan relevansi keterampilan yang dibangun di dalamnya.


Double Track 2026

 



PELATIHAN DOUBLE TRACK 2026

Terintegrasi Life Skills & Employability Framework


I. LATAR BELAKANG

Perkembangan dunia kerja dan industri menuntut lulusan pendidikan menengah tidak hanya memiliki ijazah akademik, tetapi juga keterampilan kerja yang aplikatif, kesiapan profesional, serta kemampuan berwirausaha. Namun, masih banyak peserta didik yang lulus tanpa kompetensi vokasional yang memadai sehingga sulit bersaing di pasar kerja.

Program Double Track hadir sebagai solusi strategis untuk menjembatani kesenjangan antara pendidikan formal dan kebutuhan dunia kerja dengan memberikan pelatihan keterampilan teknis dan vokasional (Technical & Vocational Skills) secara terstruktur dan berkelanjutan. Program ini menekankan prinsip Learning to Do, yaitu belajar melalui praktik langsung yang menghasilkan produk atau jasa nyata.

Agar pelatihan tidak hanya menghasilkan lulusan terampil secara teknis, program ini juga mengintegrasikan Life Skills & Employability Framework sebagaimana dikembangkan oleh UNICEF, sehingga peserta tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga siap beradaptasi, berwirausaha, dan mengembangkan karier secara berkelanjutan.


II. LANDASAN KONSEPTUAL

1. Technical & Vocational Skills (Learning to Do)

Merupakan keterampilan praktis yang memungkinkan peserta:

  • melakukan pekerjaan tertentu secara kompeten,

  • menghasilkan produk atau jasa bernilai ekonomi,

  • memenuhi standar dunia usaha dan industri.

2. Life Skills & Employability Framework

Framework ini memastikan bahwa keterampilan teknis didukung oleh:

  • sikap kerja dan etos profesional,

  • kemampuan komunikasi dan kerja tim,

  • kesiapan transisi dari sekolah ke dunia kerja atau usaha.


III. TUJUAN PROGRAM

Tujuan Umum

Meningkatkan kesiapan kerja dan kemandirian ekonomi peserta didik melalui pelatihan Technical & Vocational Skills berbasis praktik yang terintegrasi dengan Life Skills & Employability Framework.

Tujuan Khusus

  1. Membekali peserta dengan keterampilan kerja sesuai bidang keahlian.

  2. Mengembangkan kemampuan menghasilkan produk atau jasa yang layak jual.

  3. Meningkatkan kesiapan kerja dan/atau kesiapan berwirausaha.

  4. Menanamkan sikap profesional, disiplin, dan tanggung jawab kerja.

  5. Mendorong transisi lulusan ke dunia kerja, wirausaha, atau magang.


IV. SASARAN PROGRAM

  • Peserta didik SMA/SMK program Double Track

  • Usia 15–19 tahun

  • Jumlah peserta: disesuaikan dengan kapasitas pelatihan (misal 25–30 peserta per bidang)


V. BIDANG KETERAMPILAN PELATIHAN

1. Tata Boga

Fokus Kompetensi:

  • Pengolahan makanan dan minuman

  • Higiene dan sanitasi pangan

  • Produksi makanan siap jual

Output:

  • Produk kuliner

  • Paket usaha kuliner sederhana


2. Tata Busana

Fokus Kompetensi:

  • Menjahit dan pembuatan busana

  • Desain pola dasar

  • Produksi busana dan produk fesyen

Output:

  • Produk busana

  • Portofolio karya peserta


3. Desain Grafis

Fokus Kompetensi:

  • Desain visual dasar

  • Penggunaan software desain

  • Produksi konten grafis untuk kebutuhan usaha

Output:

  • Karya desain digital

  • Portofolio desain


4. Teknik Kendaraan Ringan (TKR)

Fokus Kompetensi:

  • Perawatan dan perbaikan kendaraan

  • Sistem mesin dan kelistrikan dasar

  • Keselamatan kerja bengkel

Output:

  • Layanan servis dasar

  • Kompetensi teknis bengkel pemula


VI. STRUKTUR PROGRAM PELATIHAN

Durasi Program: 4–6 bulan
📘 Pendekatan: 70% praktik, 30% teori

Tahapan Pelatihan

  1. Orientasi & pembekalan life skills

  2. Pelatihan teknis dan vokasional intensif

  3. Produksi produk/jasa

  4. Simulasi kerja atau usaha

  5. Evaluasi dan sertifikasi internal


VII. METODE PELAKSANAAN

  • Praktik langsung (hands-on training)

  • Project-Based Learning

  • Simulasi dunia kerja

  • Mentoring instruktur dan praktisi

  • Penilaian berbasis produk dan kinerja


VIII. INTEGRASI LIFE SKILLS & EMPLOYABILITY

Aspek FrameworkImplementasi dalam Program
Personal SkillsDisiplin, tanggung jawab, percaya diri
Social SkillsKerja tim, komunikasi
Cognitive SkillsProblem solving teknis
Employability SkillsEtos kerja, kesiapan kerja
Entrepreneurial SkillsPerhitungan usaha, pemasaran

IX. EVALUASI & INDIKATOR KEBERHASILAN

Indikator Keberhasilan:

  • ≥ 80% peserta lulus pelatihan

  • Setiap peserta menghasilkan minimal 1 produk/jasa

  • ≥ 70% peserta siap kerja, magang, atau berwirausaha

  • Peningkatan sikap profesional dan etos kerja

Metode Evaluasi:

  • Penilaian praktik

  • Portofolio produk

  • Observasi sikap kerja

  • Uji kompetensi internal


X. DAMPAK YANG DIHARAPKAN

  1. Lulusan Double Track yang siap kerja dan siap usaha

  2. Peningkatan daya saing lulusan pendidikan menengah

  3. Terbentuknya budaya kerja dan kewirausahaan sejak sekolah

  4. Penguatan keterkaitan sekolah dengan dunia usaha dan industri


XI. KEBERLANJUTAN PROGRAM

  • Pendampingan lulusan

  • Jejaring industri dan UMKM

  • Inkubasi usaha siswa

  • Monitoring pascalulusan


PENUTUP

Program Pelatihan Double Track ini diharapkan menjadi model pendidikan keterampilan yang tidak hanya menghasilkan lulusan terampil secara teknis, tetapi juga siap kerja, siap usaha, dan siap berkembang, sejalan dengan prinsip Learning to Do serta Life Skills & Employability Framework.


Sosialisasi Double Track 2026

 

















DESKRIPSI & ROADMAP PENGEMBANGAN PROGRAM DOUBLE TRACK

A. DESKRIPSI UMUM

Program Double Track merupakan model pendidikan vokasional terintegrasi yang bertujuan menyiapkan peserta didik agar siap kerja, siap usaha, dan siap beradaptasi dengan perubahan teknologi serta dinamika industri. Untuk menjamin keberlanjutan dan relevansi jangka panjang, pengembangan Double Track diarahkan pada pembentukan ekosistem vokasional yang kuat melalui digitalisasi, diversifikasi keterampilan, kolaborasi industri, penguatan alumni, serta pengembangan kebijakan dan pusat keunggulan (Center of Excellence).

Pengembangan ini mengusung pendekatan Life Skills & Employability, sehingga lulusan tidak hanya memiliki keterampilan teknis (learning to do), tetapi juga kemampuan bertahan dan berkembang di pasar kerja yang terus berubah.


B. PILAR PENGEMBANGAN STRATEGIS

1. Digitalisasi Program Double Track

Digitalisasi menjadi fondasi utama untuk meningkatkan akses, kualitas, dan efisiensi program.

Fokus Pengembangan:

  • Platform pembelajaran digital (LMS Double Track)

  • Digitalisasi modul, RPP, dan asesmen

  • Portofolio digital peserta

  • Sistem monitoring & evaluasi berbasis data

Tujuan:
Mewujudkan program vokasional yang fleksibel, terdokumentasi, dan mudah direplikasi lintas wilayah.


2. Diversifikasi Keterampilan

Program Double Track dikembangkan dengan ragam keterampilan yang responsif terhadap potensi lokal dan tren global.

Arah Diversifikasi:

  • Vokasi berbasis jasa dan industri kreatif

  • Keterampilan digital dan teknologi terapan

  • Kewirausahaan berbasis potensi daerah

  • Keterampilan hijau (green skills)

Tujuan:
Memperluas peluang kerja dan usaha lulusan di berbagai sektor ekonomi.


3. Kolaborasi Dunia Usaha dan Industri

Kolaborasi industri menjadi kunci relevansi pelatihan.

Bentuk Kolaborasi:

  • Penyelarasan kurikulum dengan industri

  • Magang dan praktisi mengajar

  • Sertifikasi kompetensi bersama

  • Penyerapan lulusan dan inkubasi usaha

Tujuan:
Menutup kesenjangan antara sekolah dan dunia kerja (link and match).


4. Penguatan Alumni Double Track

Alumni diposisikan sebagai aset strategis dan agen keberlanjutan program.

Strategi:

  • Pembentukan jejaring alumni

  • Pelibatan alumni sebagai mentor

  • Tracking lulusan (tracer study)

  • Dukungan karier dan usaha lanjutan

Tujuan:
Menciptakan siklus pembelajaran berkelanjutan dan efek multiplikasi dampak.


5. Pengembangan Model Kebijakan Keberlanjutan

Program Double Track diperkuat melalui kerangka kebijakan yang sistematis.

Fokus Kebijakan:

  • Standar mutu pelatihan

  • Skema pembiayaan berkelanjutan

  • Integrasi dengan kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan

  • Replikasi model lintas daerah

Tujuan:
Menjadikan Double Track sebagai program institusional, bukan proyek jangka pendek.


6. Pengembangan Center of Excellence (CoE) Double Track

CoE menjadi pusat inovasi dan rujukan nasional.

Fungsi CoE:

  • Pusat pengembangan kurikulum vokasional

  • Laboratorium praktik & inovasi

  • Pelatihan instruktur dan fasilitator

  • Hub kolaborasi industri dan komunitas

Tujuan:
Menghasilkan praktik terbaik (best practices) dan inovasi vokasional berkelanjutan.


7. Model Pembelajaran Vokasional Adaptif

Model pembelajaran dirancang adaptif terhadap:

  • teknologi baru,

  • transformasi industri,

  • kebutuhan ekonomi lokal dan global.

Ciri Model:

  • Project-Based Learning

  • Teaching Factory

  • Hybrid learning (offline–online)

  • Kurikulum modular & fleksibel

Tujuan:
Menyiapkan lulusan yang agile dan mudah melakukan upskilling/reskilling.


8. Pendampingan Berkelanjutan

Pendampingan menjadi kunci keberhasilan pascapelatihan.

Bentuk Pendampingan:

  • Mentoring kerja dan usaha

  • Inkubasi bisnis siswa/alumni

  • Konsultasi karier

  • Akses jejaring industri & pembiayaan

Tujuan:
Menjamin transisi lulusan dari pelatihan ke dunia kerja atau usaha berjalan efektif.


C. ROADMAP PENGEMBANGAN DOUBLE TRACK

🔹 Tahap 1: Fondasi & Digitalisasi (Tahun 1)

  • Digitalisasi modul dan kurikulum

  • Pengembangan LMS Double Track

  • Pemetaan potensi industri & keterampilan

  • Penguatan instruktur dan fasilitator


🔹 Tahap 2: Ekspansi & Kolaborasi (Tahun 2–3)

  • Diversifikasi bidang keterampilan

  • Implementasi magang industri terstruktur

  • Pembentukan jejaring alumni

  • Pilot Center of Excellence


🔹 Tahap 3: Institusionalisasi & Inovasi (Tahun 4–5)

  • Penguatan kebijakan dan regulasi

  • Replikasi CoE di berbagai wilayah

  • Integrasi sistem tracer study nasional

  • Pengembangan model pembelajaran adaptif berbasis teknologi baru


D. DAMPAK JANGKA PANJANG YANG DIHARAPKAN

  • Lulusan Double Track yang adaptif dan berdaya saing

  • Penurunan pengangguran lulusan pendidikan menengah

  • Penguatan ekonomi lokal berbasis keterampilan

  • Terbentuknya ekosistem vokasional berkelanjutan


Penegasan Akhir

Double Track tidak hanya program pelatihan, tetapi ekosistem pembelajaran vokasional yang hidup, adaptif, dan berkelanjutan.

 COE

  • Support: For their area of focus, CoE’s should offer support  to the business lines. This may be through services needed, or providing subject matter experts.
  • Guidance: Standards, methodologies, tools and knowledge repositories are typical approaches to filling this need.
  • Shared Learning: Training and certifications, skill assessments, team building and formalized roles are all ways to encourage shared learning.
  • Measurements: CoEs should be able to demonstrate they are delivering the valued results that justified their creation through the use of output metrics.
  • Governance: Allocating limited resources (money, people, etc.) across all their possible use is an important function of CoEs. They should ensure organizations invest in the most valuable projects and create economies of scale for their service offering. In addition, coordination across other corporate interests is needed to enable the CoE to deliver value.


Intel Skill Innovation

Kelas Komputer Eyang Blangkon