Persiapan Kerja

 



Buat desain spread majalah profesional ukuran A4 Portrait (satu halaman) bergaya editorial modern dengan layout seperti majalah Tempo, National Geographic, Fortune, atau Harvard Business Review. Gunakan sistem grid yang rapi, tipografi elegan, ruang putih yang luas, dan infografis berwarna. Halaman kiri berisi: Judul besar Subjudul Lead artikel Foto utama besar Artikel tiga kolom Grafik statistik Caption foto Halaman kanan berisi: Artikel tiga kolom Dua kotak kutipan berwarna Ikon-ikon flat modern Diagram alur Timeline berbentuk lingkaran Infografis langkah demi langkah Footer majalah Gunakan kombinasi warna biru, hijau, toska, oranye, abu-abu muda, dan putih. Tipografi modern sans-serif. Bergaya corporate report premium. Layout simetris. Bersih. Elegan. Mudah dibaca. Resolusi tinggi 300 DPI. Siap cetak.


Hari Ini, Masih Wajibkah Jadi Sarjana?
Oleh  Hery Wibowo   

Saya seorang dosen PNS dengan lima anak yang semuanya bukan di sekolah negeri. Maka, bayangkan perencaaan matang yang perlu dilakukan pada kondisi hari ini. Alih-alih mengikuti arus utama (mainstream), kami harus mencari celah peluang berbeda yang ramah kantong dalam jangka panjang. Kami harus mendewasakan anak lebih dini dan menemukembangkan fitrah bakat mereka lebih cepat dibanding keumuman di masyarakat agar mereka punya peluang sukses tanpa wajib kuliah.

Setiap tahun ajaran baru, jutaan orangtua kelas menengah Indonesia menghadapi dilema yang sama: menabung, berutang, atau menjual aset demi membiayai anak kuliah—dengan keyakinan bahwa gelar sarjana adalah tiket menuju masa depan yang lebih baik. Keyakinan ini diwariskan turun-temurun, ditanamkan sejak anak duduk di bangku SD, dan jarang dipertanyakan.

Pertanyaannya hari ini: masihkah keyakinan itu berpijak pada kenyataan? Hal ini perlu dipertanyakan karena walaupun tersedia beasiswa, menghidupi anak 4-5 tahun selama berkuliah saat ini bukan perkara sederhana dan murah. Artinya, perlu strategi atau cara pandang baru.

Ketika ijazah tidak lagi menjamin
Data terbaru justru menunjukkan arah yang mengkhawatirkan. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pengangguran di kalangan lulusan Diploma IV, S-1, hingga S-3 terus meningkat sejak 2022. Pada Februari 2022 tercatat 884.000 sarjana menganggur; angka ini terus merayap naik hingga menembus rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir pada Februari 2025, yakni lebih dari 1 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka lulusan perguruan tinggi pun meningkat dari 5,25 persen (Februari 2024) menjadi 6,23 persen (Februari 2025), kenaikan yang justru terjadi pada kelompok berpendidikan tinggi, bukan menurun seperti harapan banyak orangtua.

Di sisi lain, dunia kerja formal semakin sulit ditembus. Data Sakernas BPS menunjukkan bahwa mayoritas angkatan kerja Indonesia—berkisar 57–59 persen atau puluhan juta orang—justru bekerja di sektor informal: berusaha sendiri, pekerja lepas, atau mitra platform digital. Dari jumlah itu, sekitar 41,6 juta orang tergolong pekerja gig atau tenaga lepas, termasuk 1,8 juta pengemudi ojek dan taksi daring.

Banyak di antara mereka adalah korban PHK dari sektor formal yang ”banting setir” demi bertahan hidup, sebagian bahkan lulusan universitas. Ironisnya, pekerja informal ini nyaris tidak punya jaring pengaman sosial. Dari puluhan juta pekerja gig, baru sekitar 9 juta yang terdaftar aktif di BPJS Ketenagakerjaan, itu pun secara sukarela dan dengan biaya sendiri.

Sementara peluang kerja formal menyempit dan risiko hidup di sektor informal membesar, biaya kuliah justru terus naik. Uang kuliah tunggal di berbagai perguruan tinggi negeri papan atas kini berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 25 juta per semester (di luar biaya hidup, kos, perlengkapan kuliah, dan lain lain) tergantung program studi, dan tren kenaikan tahunan terus berlanjut. Bagi keluarga kelas menengah-bawah, ini adalah beban empat sampai lima tahun yang berat dengan hasil akhir yang—menurut data di atas—tidak lagi bisa dijamin.

Konstruksi sosial yang perlu dipertanyakan
Selama beberapa dekade, kita cenderung menanamkan satu narasi tunggal kepada anak-anak: sekolah baik-baik, kuliah di universitas favorit, baru kemudian sukses. Narasi ini dulu relevan ketika gelar sarjana masih langka dan pasar kerja formal masih lapang. Tetapi, zaman telah berubah. Ketika lulusan S-1 membeludak, sementara lapangan kerja formal stagnan dan ketika ekonomi gig menjadi realitas yang dijalani puluhan juta orang, memaksakan setiap anak menempuh jalur akademik yang sama, mempelajari semua mata pelajaran secara merata, tanpa mempertimbangkan bakat dan potensi uniknya, adalah bentuk pemborosan—pemborosan waktu, biaya, dan yang terpenting, potensi anak itu sendiri.

Ini bukan ajakan untuk antikuliah. Ini ajakan untuk berhenti menjadikan kuliah formal sebagai satu-satunya jalan sukses yang wajib ditempuh semua orang, tanpa memandang minat, bakat, dan kondisi ekonomi keluarga. Artinya, setiap orangtua perlu perencanaan yang lebih matang sejak dini.

Menemukan fitrah sejak usia 10-15 tahun
Jika konstruksi lama perlu direkonstruksi, apa gantinya? Jawabannya bukan pada institusi, melainkan pada proses: mengenali bakat dan kecenderungan alami anak—apa yang dalam banyak tradisi disebut sebagai fitrah—sejak usia 10-15 tahun, yaitu masa sekolah dasar akhir hingga SMP. Pada rentang usia ini, anak sudah cukup matang untuk diajak berpikir reflektif tentang dirinya sendiri: apa yang membuatnya bersemangat, apa yang.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »