Artikel - Mengembangan DT Mart Jalan Bagi Produk Sekolah ke Pasar Global

Etalase, Jalan bagi Produk Lokal ke Pasar Global


Memberikan etalase bagi produk lokal di berbagai platform perdagangan sangat penting untuk membuka jalan produk lokal menuju pasar global.

asar Indonesia yang sangat besar merupakan peluang yang seharusnya dapat dikuasai oleh produk dalam negeri dan menjadi pasar utama bagi produk lokal, baik dari skala mikro sampai skala manufaktur. Data Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) dan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) tahun 2026 menunjukkan setidaknya terdapat 400 pusat perbelanjaan dan 80 ribu gerai ritel modern di seluruh Indonesia yang dapat menjadi etalase bagi produk lokal.

Sementara untuk perdagangan digital, data BPS pada triwulan 2 tahun 2026 mencatat transaksi online dari ritel daring dan lokapasar tumbuh sebesar 35,13 persen secara tahunan yang dapat menjadi indikator potensial pasar digital. Kini, peluang pemasaran produk lokal bertambah lagi dengan kehadiran puluhan ribu Koperasi Desa / Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Perkembangan seluruh jaringan minimarket, supermarket, department store, pusat perbelanjaan, KDKMP hingga berbagai format ritel berbasis toko digital sudah seharusnya menjadi bagian penting dari rantai pasok perdagangan dan distribusi nasional. Perannya pun bergeser tidak lagi sekadar sebagai pusat perdagangan, tetapi juga ikut menjadi penentu standar produk, memberikan pertimbangan preferensi konsumen, sekaligus agen pemasaran.

Oleh karena itu, memberikan etalase bagi produk lokal di berbagai platform perdagangan sangat penting untuk membuka jalan produk lokal menuju pasar global.

Etalase, akses, dan daya saing
Pada Semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan pada semester ini adalah Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 11,83 persen. Sementara itu, Survei Konsumen Bank Indonesia pada September 2026 juga mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia meningkat.

Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 yang berada pada level optimis sebesar 118,1. Optimisme konsumen tersebut ditopang oleh meningkatnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi ke depan. Sejumlah indikator ekonomi tersebut menunjukkan bahwa ruang bagi produk lokal untuk tumbuh dan berkembang di pasar domestik masih sangat besar.

Sebagai salah satu penggerak ekonomi dan perdagangan Indonesia, memberikan akses pasar bagi produk lokal dapat memberikan efek berganda pada pembukaan lapangan pekerjaan, peningkatan aktivitas produksi dan ekonomi daerah, yang muaranya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketika produk lokal berhasil masuk ke etalase ritel modern, maka produk tersebut tidak hanya siap bersaing di dalam negeri, tetapi juga sudah siap masuk ke pasar global.

Mengapa? Karena produk tersebut sudah memenuhi standar dan proses kurasi ritel modern yang ketat, mampu memenuhi pesanan berulang, punya kapasitas produksi yang memadai, dan siap menjadi bagian dari rantai pasok yang berkelanjutan.

Pada masa lalu, kehadiran produk lokal dari pelaku usaha mikro dan kecil di etalase ritel modern masih terbatas. Pemerintah lalu meresponsnya melalui pendekatan mandatory display: minimarket, supermarket, department store, dan hypermarket wajib menyerap dan memajang produk lokal. Kewajiban itu diperlukan untuk membuka ruang yang sebelumnya sulit ditembus produk lokal.

Namun ternyata, membuka akses pasar saja tidak cukup. Banyak produk lokal yang memiliki kualitas yang baik, tetapi belum siap memenuhi kebutuhan pasar dalam skala yang lebih besar. Ada yang terkendala legalitas, kemasan, sertifikasi, kapasitas produksi, atau kontinuitas pasokan.

Sementara ritel modern, bekerja dengan standar yang ketat. Legalitas, keamanan pangan, mutu, label, masa simpan, harga, kapasitas produksi, hingga ketepatan pengiriman menjadi bagian dari proses kurasi. Sejumlah standar tersebut tidak semestinya dipandang sebagai penghalang untuk naik kelas. Justru standar pasar dapat menjadi tangga untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan kualitas usaha.

Mengutip pemikiran ekonom Michael Porter, daya saing pada akhirnya bertumpu pada produktivitas. Produktivitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan lebih banyak, tetapi juga oleh kemampuan menghasilkan nilai yang lebih tinggi melalui kualitas produk, efisiensi proses, inovasi, dan pemanfaatan tenaga kerja serta modal secara lebih baik.

Pada konteks ini, maka peningkatan standar produk, efisiensi produksi, konsistensi mutu, kemampuan memenuhi pesanan, dan ketepatan pasokan bukan sekadar persyaratan bagi produk lokal untuk masuk ke ritel modern. Semua itu merupakan bagian dari proses membangun produktivitas dan daya saing usaha produk lokal itu sendiri.

Di sinilah pemerintah harus hadir dan berperan sebagai jembatan, memastikan produk lokal bisa memenuhi standar tersebut, hingga memiliki kesempatan untuk bersaing, dan mendapatkan akses ke berbagai platform perdagangan. Peran tersebut dijalankan tidak hanya melalui pengaturan kebijakan atau regulasi, tetapi juga melalui berbagai fasilitasi yang didukung oleh peran swasta dan dunia pendidikan.

Pertama, memperkuat kesiapan produk lokal menuju pasar global melalui fasilitasi pengembangan kemasan dan branding, peningkatan kapasitas pemasaran, serta penguatan pengelolaan usaha.

Kedua, aktif menggelar proses kurasi dan business matching. Kegiatan ini bertujuan mempertemukan pelaku usaha skala kecil dan menengah dengan calon pembeli, sekaligus menjadi ruang dialog dan umpan balik yang konkret mengenai mutu, harga, kemasan, kapasitas, dan jadwal pasok.

Ketiga, memperluas kanal kemitraan. Akses pasar produk lokal tidak dibatasi pada etalase gerai ritel modern, tetapi juga pusat perbelanjaan, jaringan transportasi, perusahaan berjejaring global, KDKMP, serta berbagai kanal perdagangan digital. Diversifikasi ini penting karena setiap produk memiliki konsumen dan model distribusi yang berbeda.

Proses membangun etalase produk lokal di berbagai platform perdagangan sebagai jalan menuju pasar global perlu sinergi seluruh pihak. Model kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, masyarakat, dan juga media menjadi model paling minimum dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing produk lokal.

Sinergi maksimum dapat dicapai dengan dukungan satu unsur lagi, yaitu lembaga keuangan atau investor karena persoalan modal justru seringkali menjadi penghambat utama. Jika semua sinergi ini bisa berjalan baik, maka impian untuk melihat etalase platform perdagangan kita dipenuhi produk lokal berkualitas bukanlah hal sulit. Ibarat rumah, etalase adalah ruang tamu, maka isilah ruang itu dengan produk lokal kita.